Sering dalam pekerjaan sehari hari kami sebagai desainer otomotif harus menjelaskan nilai dari sebuah desain. Prinsip Desain yang mana yang lebih baik antara yang satu dengan yang lainnya.

1. Unity : adanya konektifitas antar Unsur unsur desain, unsur garis dan bidang yang saling terkait dengan baik membentuk sebuah tema yang kuat

2. Proportion : perbandingan antar elemen yang setimbang, salah satunya teori yang terkenal adalah teori Golden Section

3. Balance : adalah keseimbangan secara “berat visual” ini bisa keseimbangan simetrik maupun asimetrik

4. Rythm : pengulangan unsur unsur seni rupa yang menghasilkan gerak atau arah tertentu menjadi sebuah irama visual

5. Vocal Point/Aksentuasi : bisa berupa anomali dari prinsip prinsip diatas atau penguatan di titik tertentu untuk lebih menguatkan tema keseluruhan sehingga desain menjadi lebih menarik

6. Harmony : merupakan prinsip desain yang diartikan sebagai keteraturan tatanan diantara bagian-bagian suatu karya. Keselarasan dalam desain merupakan pembentukan unsur-unsur keseimbangan, keteraturan, kesatuan, dan perpaduan yang masing-masing saling mengisi dan menimbang.

 

Sketsa diatas menunjukkan penerapan golden section, dari rocker panel ke waist line itu proporsi A, dari waist line ke atap mobil proporsi B, demikian juga antara engine hood berbanding dengan kabin penumpang dan rear trunk

Banyak Aplikasi Golden Ratio atau Golden section disini

Penjelasan proporsi dengan pendekatan lain, diameter roda sebagai satuannya

Pada sketsa ini saya ingin menunjukkan 2 hal yaitu: Vocal Point dan Rythm.
Vocal point tampak samping adalah wheel rim yang besar, Ferari ingin menekankan bahwa kendaraan ini punya traksi yang besar karena punya mesin yang sangat powerfull, begitu kuatnya vokal point disini sampai brake calipernya di ekspos dengan warna merah.
Untuk Rythm coba perhatikan curva curva atap mobil, fender, kaca samping bawah, lubang air intake samping, ada repetisi curva yang bertalu-talu sehingga membentuk rythm visual seperti diatas

Dalam menimbang hal diatas seperti lazimnya melihat sebuah desain harus dilihat oleh “mata rasa” selain mata dalam arti sebenarnya “don’t be too analythical” rasakan saja, ini akan mengasah ketajaman mata rasa kita.

Tidak semua prinsip desain itu terlihat dengan jelas sepert keenam teori diatas kadang yang kuat hadir salah 3 atau 4 dari 6 prinsip diatas, itu sudah cukup.

Menariknya desain itu bukan matematika, ada “preference” tertentu dari segmen pasar tertentu dalam menyikapi dan menilai prinsip prinsip desain diatas

Oleh karena itu evaluasi terampuh adalah dengan menanyakan langsung ke calon pembeli mobil kita, desain manakah yang paling menarik, kalau menarik maukah yang bersangkutan memiliki mobil tersebut? Kalau jawabannya semua “ya” maka itu lebih penting. Apa lagi kalau dari 10 responden minimal 7 sudah menjawab Ya, maka Desainernya boleh tersenyum puas…:-D


Tentang Penulis:

Pradipto Sugondo adalah seorang Desainer Produk Otomotif yang memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun di bidang Riset dan Pengembangan Produk pada salah satu perusahaan Otomotif di Indonesia. Ia juga pengurus ADPII serta GAIKINDO.