Sebagai pecinta dan pengamat desain produk, kemunculan brand Sepiring Indonesia sangat menarik perhatian saya. Menurut saya perpaduan brand yang catchy serta desain visual yang memiliki ciri khusus akan membangun karakter dari keseluruhan produk itu sendiri, walaupun secara bentuk, produk tersebut menggunakan bentuk (desain produk) yang sudah ada. Kekuatan desain visual yang dimiliki oleh produk-produk dari Sepiring Indonesia membuatnya memiliki kekuatan sendiri dimata masyarakat.

Saya mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai founder dari Sepiring Indonesia ini yang kebetulan adalah kakak kelas saya saat kuliah di Desain Trisakti, Erin Zulviana.

Tidak seperti wawancara-wawancara saya sebelumnya, perbincangan saya dengan Erin yang berbuah hasil wawancara yang unik hanya dilakukan dengan satu kali trigger, yaitu satu pertanyaan yang kemudian dijawab oleh Erin yang langsung membuahkan satu artikel. Saya memulai dengan pertanyaan,

“Halo Erin! Apakabar? Saya sudah sering mendengar tentang Erin dengan Sepiring Indonesianya. Boleh diceritakan latar belakang Erin mungkin dari asal muasal bagaimana Erin bisa menyadari ketertarikan Erin terhadap dunia seni sampai lahirnya Sepiring Indonesia?”

Jawaban Erin bisa langsung dibaca di bawah ini:

Sebenarmya, ketertarikan dengan dunia seni, dimulai dari hobby menggambar dari semenjak SD dulu. Secara spesifik, saya suka banget gambar orang (wanita). Menurut saya, wanita adalah objek yang sangat indah untuk digambar.

Sejak kecil, ga seperti teman teman yang masih bingung cita citanya apa, saya sudah tahu cita cita saya… jadi desainer! Cuma memang ada kebingungan, mau jadi desainer interior atau fashion?

Terus terang, ga pernah kepikir untuk jadi seorang grafis desainer dan kemudian punya brand seperti sekarang ini. Saat kuliah dulu, sepertinya mengalir aja, masuk desain grafis, karena ternyata pelajaran gambar model adanya di jurusan grafis. Engga jadi masuk desain interior karena disana masih ada teori yang mengharuskan kita menghitung presisi (I’m not mathematical person), ga jadi masuk desain fashion karena dulu belum ada sekolah fashion yang bagus, kecuali kalo sekolah di luar ya.
Tapi kalo dipikir pikir sekarang, setiap urusan kita memang sudah ada yang atur, Yang Maha Mengatur.

Jaman kuliah dulu, saya juga termasuk mahasiswa yang biasa aja. Kecuali kalo gambar model, selalu dapet A, karena memang suka. Oh iya, bersyukur juga sih, dikaruniai bakat menggambar, karena ternyata tidak semua teman yang kuliah, bisa menggambar. Ini nantinya sangat berguna untuk memvisulisasikan ide atau konsep desain.

Setelah lulus kuliah, saya mulai bekerja dan meniti karir. Generasi kita, masih menganut faham, membangun karir di suatu perusahaan kan, bukan start our own brand/company sedini mungkin.

Highlight dalam dunia kerja. Setiap step dalam pekerjaan saya, ternyata adalah tuntunan untuk belajar hal hgal yang saya butuhkan saat ini untuk membangun Sepiring Indonesia.

Di BDA, bos/guru saya (alm) Pak Irvan Noe’man, meletakkan dasar-dasar desain yang benar, mengajari saya banyak hal yang sangat berguna. Salah satunya ilmu mengenai corporate branding. It’s Priceless! Saya sangat berterimakasih ke (alm) Pak Irvan, untuk semua ilmu yang beliau ajarkan pada saya.

Kemudian, karir dalam pekerjaan mengarahkan saya menjadi in-house designer di beberapa di beberapa perusahaan nasional maupun internasional. Episode ini sangat berguna untuk mengasah mental, mengajarkan saya bagaimana membina teamwork, membina network, mempelajari banyak disiplin ilmu baru seperti packaging design, merchandise design, dan banyak lainnya. Yang lebih mengasyikkan lagi, saya bertemu banyak teman-teman, yang akhirnya nanti terlibat dalam Sepiring Indonesia, baik sebagai partner, maupun rekan pengrajin.

Tahun 2010 saya berhenti bekerja, mulai bersiap untuk berdiri sendiri, dan merintis design house sendiri.

2010 – Titik Balik

Setelah berhenti kerja di tahun 2010, saya sudah bulat tekad untuk berusaha sendiri. Ada beberapa teman yang mengajak untuk bekerja sama, tetapi entah kenapa saya belum tertarik. Beberapa saat saya masih berkecimpung dalam “ritual – ritual design agency” seperti ikut pitching-pitching corporate untuk annual corporate set , dan beberapa kali pula berhasil mendapatkan project-nya.

Tetapi, passion untuk membuat produk sendiri, tetap ada.
Sebenarnya, semenjak 2006, saya sudah sering membuat desain dan bahkan memproduksinya secara kecil kecilan. Seperti laptop casing yang pernah saya produksi, dan kemudian bingung mau dijual kemana…hehehe. Banyak sekali eksperimen-eksperimen kecil, dan pattern/illustrasi yang sudah saya hasilkan sejak 2006, tapi belum bisa serius karena saya masih terikat dengan pekerjaan kantor yang menyita energi. We need to FOCUS to build a BRAND. Dan itu tidak mungkin dilakukan secara part time.

2012-2013. Momentum lahirnya Sepiring Indonesia

Sekitar akhir Juni 2012, saya dengar di Hard Rock FM, ada lomba desain souvenir Jakarta (Jakarta Souvenir Design Award) yang akan diselenggarakan. Entah kenapa, saya merasa luar biasa excited. Tiba-tiba banyak sekali ide di kepala yang harus segera divisualisasikan. Saya ingat, waktu itu saya sedang menyetir, jadi begitu sampai di rumah, langsung ambil kertas, corat coret, bikin sketsa, saking semangatnya.

Untuk ikut suatu lomba, menurut saya, harus all out. Jangan setengah setengah. Banyak juga modal yang saya keluarkan untuk membuat sample untuk karya saya Joged Jakarta, yang akhirnya menang kategori Best Design di JSDA 2012.

Kemenangan di JSDA, membawa banyak berkah. Selain network yang bertambah (baik dari DKI/ government sebagai penyelenggara lomba, maupun komunitas desainer), juga banyak sekali opportunity yang ditawarkan dari berbagai pihak.Salah satunya adalah dari ketua tim jury waktu itu, mas Roland Adam dan rekannya Frank Hijmans. Beliau menawarkan suatu kerjasama sekaligus tantangan kreatif. Pada saat itu saya mulai mengajak rekan saya Jasmyne Oei untuk bergabung dalam team, dan membantu marketing dan sales. Setelah berdiskusi panjang dalam tim kecil, kita putuskan untuk membuat set terdiri dari 6 piring, yang menggambarkan tentang Indonesia. Beliau menyerahkan bagian kreatif sepenuhnya ke saya, desain, produksi dan nama produknya.

Setelah bermain-main dengan banyak kata, kebanyakan dengan bahasa Inggris, tiba-tiba di benak saya terlintas kata-kata Sepiring Indonesia. Sebuah makna yang dalam, walaupun sederhana. Sepiring Indonesia artinya “Menyajikan Indonesia” atau ” Wadah untuk Indonesia”. Penyajian Indonesia ini digambarkan dengan gaya yang khas, dan warna warni yang enerjik. Pattern atau ilustrasi yang saya gambarkan diambil dari budaya, kesenian, kehidupan sehari-hari, bahkan sejarah bangsa.

Pada 19 Juni 2013 Sepiring Indonesia akhirnya diluncurkan dalam suatu acara yang cukup meriah , karena didukung oleh beberapa pihak seperti Mas Roland Adam dan rekan rekan desainer Komunitas Kemang, ibu Pincky dan tim Alun-Alun Grand Indonesia, tim Dekranasda DKI Jakarta dan diresmikan oleh ibu Veronica Basuki sebagai istri Wagub saat itu.

Di awal peluncurannya, Sepiring Indonesia mengeluarkan koleksi awal culture plates, yang berupa koleksi piring dekor terdiri dari Joged Jakarta, Jawa Semanak, Legong Bali, Rancak Minang, Tatau Dayak dan Bugis Makanja. Dan masyarakat menyambut dengan antusias, karena ini adalah sesuatu yang baru. Motif dan illustrasi yang jenaka,kaya warna dan merekam cerita Indonesia dalam kesehariannya, dan menterjemahkannya dalam bentuk produk.

Sepiring Indonesia – The Journey

Dalam 5 tahun perjalanannya, Sepiring Indonesia juga mengalami banyak tantangan (saya lebih suka menggunakan kata tantangan dibandingkan kendala). Terlebih lagi, varian produk yang semakin lama semakin banyak, tentunya membutuhkan fokus yang maksimal baik dalam bidang desain maupun produksi. Saat ini, varian produk Sepiring Indonesia terdiri dari ceramic base product (culture plates, eco mug, short mug, cappucino set), canvas base products (home decor), canvas leather bags, Fiber/ board base (placemat-coaster) dan selalu ada inovasi baru setiap tahunnya. Dan tanpa terasa saat ini kami sudah punya sekitar 80 jenis produk (SKU).

Sebagai founder dan desainer tunggal di Sepiring Indonesia, saya punya tanggung jawab untuk selalu berinovasi dalam desain dan produksi. Saat ini produk-produk sejenis semakin banyak di pasar namun, hal tersebut tidak terlalu mengganggu penjualan Sepiring Indonesia. Motif dan ilustrasi yang berbeda serta inovasi-inovasi baru setiap saat, membuat produk-produk baru Sepiring Indonesia selalu disambut dengan baik di pasar.

Tahun 2017 ini, Sepiring Indonesia terpilih bersama 7 brand Indonesia lainnya, dengan melalui kurasi ketat dari Bekraf dan New York, untuk mewakili Indonesia di suatu pameran internasional bergengsi di NY NOW 2017. Bagi saya, ini adalah ajang pembelajaran yang sangat berharga, dimana saya bisa mengamati pasar Amerika.

Salah satu big dream saya adalah Sepiring Indonesia menjadi suatu brand yang diminati baik di Indonesia maupun di dunia internasional. Dengan begitu, produksi menjadi semakin lancar, dan ikut meningkatkan kesejahteraan banyak pihak terkait. Cita cita yang membuat saya selalu punya energi dan bersemangat setiap hari.


Tentang Penulis:

Abang Edwin SA atau lebih dikenal dengan panggilan BangWin adalah seorang konsultan digital business dan creative thinking (Bangwinissimo Consulting). Ia juga dikenal sebagai pionir dalam bidang online community management semenjak tahun 1998. Ikuti jejak langkahnya dengan memfollow @bangwinissimo , Facebook Profilenya, dan IGnya di @bangwin. Blognya bisa dibaca di bangwin.net