Ini adalah pertanyaan mendasar yang bisa diabaikan oleh mereka yang sudah terbiasa dengan dua pekerjaan ini dan perbedaannya. Saya telah mempelajari bahwa seringkali orang lain kebingungan saat mereka saya beritahu bahwa saya lulus kuliah dijenjang S1 dari jurusan Desain dengan program studi pada Desain Produk Industri. Apakah pekerjaan saya membuat gambar-gambar? Atau merancang buku? atau mungkin bikin rumah? merancang pakaian? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang sering saya dapatkan. Untuk itu yuk mari kita bahas tentang profesi desainer produk industri (dan desainer pada umumnya) dan apa yang membedakannya dari seniman.

1. Produk Akhir

Secara sederhana bisa disebutkan bahwa seniman dan desainer sama-sama menciptakan produk visual. Seniman bagaimanapun, menciptakan sesuatu yang enak dilihat untuk dikonsumsi oleh penikmat seni. Lukisan atau ilustrasi sebenarnya dibuat dengan niat untuk menjadi hasil akhir dari visi sang seniman. Apakah karya tersebut sampai ke market sebagai hasil cetakan berbentuk buku, sebuah kanvas untuk di galeri, karya berbingkai yang digantung di rumah atau mural, karya seni itu adalah produk akhir. Desainer membuat gambar yang indah sebagai bentuk komunikasi dan merupakan salah satu langkah kecil dalam jalur produksi. Seorang desainer akan menggunakan rendering, sketsa, model dan cara lain untuk mengomunikasikan desain mereka ke semua orang yang bekerja sama dalam satu tim untuk menciptakan produk akhir yang dapat dikonsumsi. Produk akhir yang dihasilkan mungkin bisa berupa video game, film, kulkas, laptop, ransel atau perabot. Sketsa awal desainer, rendering atau mock-up tidak dimaksudkan untuk dilihat oleh konsumen, melainkan untuk menjelaskan solusi desain mereka kepada mereka yang akan membantu mewujudkan desain tersebut.

2. Pemecahan Masalah

Setiap orang memecahkan masalah dengan satu atau lain cara. Dalam kebanyakan kasus, masalah seorang seniman yang ingin dipecahkan adalah bahwa mereka memiliki gagasan atau visi dan ingin membaginya dengan orang lain. Mereka memecahkan masalah tersebut dengan cara menciptakan karya seni. Sedangkan desainer sering dihadapkan dengan ‘masalah’ klien yang kemudian harus mereka pecahkan. Contoh: perusahaan ingin meningkatkan penjualan produk yang telah mereka jual selama bertahun-tahun. Pekerjaan desainer kemudian berubah menjadi beberapa masalah kecil dimana mereka harus meyakinkan (potensial) konsumen bahwa produk ini lebih baik daripada produk yang sudah lebih dulu mereka miliki. Desainer bisa memilih dengan menyegarkan desain yang sudah ada, memperbaiki ergonominya, memanfaatkan metode produksi yang berbeda yang dapat menurunkan biaya dan, mungkin saya juga memasukkan fitur baru. Hasil akhir yang didapat bisa saja produk modern yang bisa dilipat agar bisa menghemat ruang, lebih nyaman digunakan dan bahkan harga yang lebih murah dari yang terakhir dibeli oleh konsumen sebelumnya. Desainer memecahkan masalah bagi klien dan dan juga konsumen.

3. Craft

Craftsmanship adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan skill untuk membuat suatu produk. Seniman adalah pengrajin karena tanpa tingkat craftmanship yang tinggi, karya mereka tidak akan lebih dari karya seorang pemula. Seringkali, keahlian seorang seniman meningkat dari waktu ke waktu dan meningkatkan juga nilai sebuah karya yang diciptakan olehnya. Dalam hal ini keahlian (craftmanship) dari desainer ada pada komunikasi dan pemecahan masalah desain dengan cepat dan elegan. Desainer tidak perlu keahlian tingkat tinggi untuk ‘menjual’ gagasan mereka seperti yang dilakukan seorang seniman, tapi tidak ada yang bisa membantah, semakin tinggi keahlian Anda, akan semakin berharga juga Anda secara pribadi.

4. Interaksi

Interaksi yang terjadi antara orang-orang dengan karya para seniman seringkali sangat pasif dan visual. Kecuali itu instalasi atau pahatan, dan interaksi yang terjadi seringkali sangat minim. Walau bagaimanapun interaksi mengambil bagian yang sangat besar dalam desain. Kebanyakan desainer menciptakan solusi untuk masalah umum dengan mendesain produk yang sering berinteraksi dengan orang. Entah itu furnitur, peralatan, elektronik, pakaian, peralatan dapur, atau mobil, semua produk ini dirancang dengan berdasarkan apa yang diharapkan oleh pengguna. Sebelum sebuah desain dapat disebut berhasil, desain perlu menempatkan beberapa isu, dan salah satu yang terpenting adalah selalu berinteraksi.

5. Fungsi

Apa fungsi yang dihasilkan oleh karya seni? Ini digunakan sebagai stimulasi visual, sebagai dekorasi atau cerita. Produk yang dibawa ke kehidupan oleh desainer perlu memiliki fungsi agar bisa sukses.Desain fungsional” adalah istilah yang sering digunakan untuk mengatakan “produk ini berfungsi untuk memenuhi secara spesifik sebuah kebutuhan”. Jika sebuah pembuka kaleng yang paling indah didesain dengan bahan serat karbon ringan berteknologi tinggi dan mewah, mungkin ‘didesain’, tapi mungkin tidak fungsional. Bahannya mungkin tidak tahan lama atau cukup tajam untuk membuka kaleng dengan dan jika harganya 100 kali lebih mahal daripada pembuka kaleng konvensional, jadinya mungkin tidak bisa dijual sebagai barang konsumen. Dalam kasus ini, daripada produk tersebut menjadi produk pembuka kaleng serat karbon ultra ramping kemungkinan akan lebih dianggap sebagai karya seni karena bisa membawa pernyataan (statement), dan untuk diamati – tidak digunakan untuk membuka kaleng. Dan kemungkinan besar, itu tidak akan diproduksi secara massal, dengan kata lain produk tersebut adalah karya seni.

6. Produksi

Karya seni sering dibuat untuk dijual sebagai barang asli dengan sejumlah uang yang mewakili jumlah usaha dan jam yang dimasukkan ke dalamnya oleh seniman itu sendiri. Desain biasanya dibuat dengan pola pikir produksi massal. Entah itu produk konsumsi, aplikasi, grafis, atau interior, jumlah bagian yang perlu diproduksi memainkan peran besar dalam bagaimana sesuatu didesain. Desainer sering mengingat hal ini saat sebuah produk menjadi lebih kompleks. Proses produksi secara otomatis harus digunakan untuk mengurangi biaya tenaga kerja. Desainer cenderung mencoba mengurangi biaya produksi dan mempertimbangkan keseluruhan umur suatu produk (dari konsep hingga konsumsi hingga pembuangan) dan mengintegrasikan fitur agar lebih ramah bagi konsumen dan juga alam.

Nah, semoga perbedaan antara karya yang diciptakan oleh desainer dan seniman bisa semakin jelas. Saya dalam hal ini sama sekali tidak ingin menyimpulkan atau mengklaim bahwa desain lebih baik daripada seni, hanya berbeda dari sudut pandang pekerjaan saja. Keduanya memiliki nilai masing-masing dan membutuhkan sejumlah besar pembelajaran dan latihan untuk bisa melakukannya dengan baik. Jangan ragu untuk mengingat perbedaan di atas saat Anda perlu menjelaskan apa yang Anda lakukan.


Tentang Penulis:

Abang Edwin SA atau lebih dikenal dengan panggilan Bangwin adalah seorang konsultan digital business dan creative thinking (Bangwin Consulting). Ia juga dikenal sebagai pionir dalam bidang online community management semenjak tahun 1998. Ikuti jejak langkahnya dengan memfollow Twitternya , Instagramnya dan Facebook ProfilenyaBlognya bisa dibaca di bangwin.net