Suku Karo di Sumatera Utara sebagai bagian dari banyak suku di Indonesia memiliki khazanah seni dan budaya yang unik dan beragam. Hal inilah yang membuat saya tertarik untuk membuat sebuah ulasan tentang salah satu perhiasan unik yang disebut padung-padung, kemudian mencoba menggali potensinya untuk dikembangkan menjadi elemen estetik pada produk. Ketertarikan saya terhadap kebudayaan suku Karo selain keunikannya juga berawal dari keprihatinan saya melihat generasi saat ini yang sangat mudah terkena culture attack. Pengaruh budaya dari luar negeri menjadi sesuatu yang demikian mudah digandrungi. Koreanisasi, Westernisasi, Jepangisasi, dan lain-lain demikian maraknya dan tak terbendung akibat kemudahan dalam mengakses teknologi. Saya bukan orang Karo. Tetapi di dalam tubuh anak saya mengalir darah Karo dari ayahnya. Saya tidak ingin anak saya kelak tidak tahu dari mana ia berasal dan tidak mengenali akar budayanya sendiri.

Padung-padung adalah sebuah perhiasan berupa anting dengan ukuran dan berat yang tidak lazim sebagaimana perhiasan pada umumnya. Bentuknya menyerupai serangga kaki seribu (Chilognata) atau dalam bahasa Karo disebut tangga-tangga. Bentuk organis yang diadaptasi dari alam ini adalah salah satu bentuk apresiasi masyarakat Karo terhadap alam yang telah memberikan kehidupan dan kekayaan alam yang berlimpah. Dengan berat berkisar 1.5-2 kg, padung-padung digunakan dengan cara dimasukkan ke dalam lubang di daun telinga dan salah satu ujungnya dikaitkan pada kain penutup kepala. Material yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan perhiasan ini adalah emas, perak, dan suasa.  Pande besi dari Tanah karo adalah salah satu pembuat perhiasan yang terkenal di Pulau Sumatera karena memiliki craftmenship tinggi. Anting ini digunakan wanita Karo pada masa lalu sebagai perhiasan sekaligus simbol status.

Dibalik keunikan wujud tangible-nya, bentuk padung-padung yang sederhana ternyata menyimpan makna filosofis yang dalam mengenai kebudayaan Karo di masa lalu yaitu;

  • Melambangkan kedekatan masyarakat Karo terhadap alam yang telah memberikan kehidupan layak kepada mereka.
  • Mengandung pesan dari seorang ayah kepada anak gadisnya pada hari pernikahannya sebagai lambang statusnya yang baru setelah menikah,
  • Cara pemakaian padung-padung berbeda antara telinga sebelah kanan dengan telinga sebelah kiri. Hal ini ternyata mengandung makna implisit yang melambangkan kehidupan sebuah perkawinan yang tidak selamanya berjalan mulus. Oleh karena itu dalam sebuah kehidupan perkawinan, sepasang suami istri harus saling mendukung.
  • Sistem patrilineal yang dianut suku Karo mengharuskan wanita Karo untuk tunduk pada peraturan adat yang memposisikan mereka di bawah kaum pria. Sikap patuh dan menerima itu diperlihatkan ketika mereka dengan senang hati mengenakan perhiasan padung-padung dalam keseharian mereka walaupun jika di telaah secara logika, dengan berat dan ukuran yang tidak lazim itu tentu akan menyebabkan rasa tidak nyaman. Dengan mengenakan padung-padung, mereka merasa telah ikut menjalankan tradisi turun temurun dalam hal menghias diri. Hal ini menunjukkan kekuatan dan ketegaran jiwa wanita Karo masa itu.

Berdasarkan penjelasan mengenai makna dan peranan padung-padung di atas, dapat disimpulkan bahwa dibalik wujud tangible-nya yang unik terkandung makna intangible yang sarat akan pesan moral khususnya bagi wanita Karo. Oleh karena itu, sangat sayang jika keberadaan padung-padung dibiarkan hilang begitu saja dan tidak lagi diketahui oleh generasi muda saat ini dan di masa mendatang. Dengan alasan inilah, saya mencoba membuat beberapa alternatif desain produk berikut ini:

Dengan berbagai penyesuaian misalkan dalam hal ukuran, penggunaan material, fungsi, dan faktor-faktor lainnya, padung-padung dapat menjadi alternatif elemen estetik yang menarik untuk dikembangkan. Penerapan padung-padung tersebut hanyalah beberapa contoh yang telah dilakukan secara eksperimentatif. Jika dilakukan penelitian lebih mendalam, penerapan padung-padung sebagain elemen estetis pada produk dalam lebih luas dan beragam, sehingga dengan demikian, keberadaan padung-padung dapat tetap terjaga dalam wujud yang menyesuaikan dengan kondisi jaman.

Masih banyak cara lain yang dapat kita lakukan untuk mengangkat kembali eksistensi padung-padung, misalnya: pengembangan potensi padung-padung sebagai daya tarik pariwisata di Sumatera Utara khususnya dalam pengembangan wisata budaya Karo yaitu sebagai cultural attractions beserta segala aspek budaya yang menyertainya (social attractions), menjadikan media komunikasi elektronik sebagai salah satu cara paling mudah dan efektif untuk memperkenalkan padung-padung kepada khalayak, memberdayakan museum dengan mengadakan seminar dan pameran yang berkaitan dengan perhiasan tradisional Karo khususnya padung-padung, serta penerapan padung-padung sebagai elemen estetik yang aplikatif di masa kini dan menjadi dasar pelestarian dan pengembangan produk budaya berdasarkan kearifan lokal (indigenous local), misalnya; sebagai souvenir, perhiasan (anting, kalung, gelang), merchandise, dan produk-produk lainnya.

* Tulisan lebih lengkap mengenai padung-padung dapat diakses melalui beberapa link berikut:


Tentang Penulis:

Ariani Rachman berprofesi sebagai dosen di Program Studi Desain Produk FSRD Universitas Trisakti. Bila memerlukan info lebih jauh, dapat menghubungi penulis di arravqa@gmail.com