Kerajinan/Craft

Nurani yang Berkarya

Handicraft atau kerajinan tangan begitu melekat dalam kehidupan keseharian kita di Indonesia. Di setiap pelosok daerah kita dapat menemui ini dikehidupan pedesaan, karena merupakan pekerjaan sambilan pengisi waktu luang sembari bertani atau melaut. Adapun barang yang dibuat adalah untuk keperluan sehari-hari, dari keranjang hingga mainan anak-anak bahkan alat musik. Dan terbuat dari bahan baku alam yang berlimpah di sekitarnya.

Entah sejak kapan ini ada, dan sudah menjadi tradisi dan budaya setiap daerah di Indonesia. Dengan berbagai macam corak, motif dan bentuk. Yang diilhami oleh alam dan kebudayaan yang telah turun temurun.

Ada beberapa kerajinan tangan khas Indonesia yang telah mendunia. Seperti ukiran Bali, anyaman khas Lombok dan Kerajinan rotan di Kalimantan.

Enam bulan lalu saya mengikuti salah satu program yang diselenggarakan oleh Indonesia Design Development Center (IDDC) yang diprakarsai oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Nama program tersebut adalah DDS (Designer Dispatch Service). Daerah yang ditunjuk adalah kota Tasikmalaya untuk pengembangan bahan baku bambu. Program berlangsung 6 bulan lamanya. Dan sudah selesai di bulan Oktober ini dengan dilakukannya tes pasar dalam pameran TRADE EXPO INDONESIA 2017, ICE BSD Serpong.

Hal yang paling menarik dari program ini, dan saya alami sendiri adalah keberagaman kultur dan bahasa di Indonesia ini yang menjadi tantangan tersendiri selaku desainer pendamping. Belum termasuk pola pikir masing-masing individu pelaku usahanya. Banyak hal-hal lain yang melatar belakangi proses berlangsungnya program ini.

Saya bercerita sedikit tentang latar belakang dan kultur saya sendiri terlebih dahulu, Saya berasal dari pulau Belitung, propinsi Bangka Belitung. Dengan budaya Sumatera atau Melayu yang kental. Cara bicara blak-blakan disertai nada tinggi adalah hal yang biasa di kampung kami. Sedangkan pelaku usahanya dengan budaya Sunda yang penuh kelembutan. Intonasi bahasanya pun lemah gemulai, dan memiliki sejumlah tingkatan bahasa peruntukkan dan diperuntukannya. Dari sisi bahasa saja sudah memiliki perbedaan yang drastis. Belum lagi hal-hal budaya dan kebiasaan hidup.

Hal diatas ini membuat saya berpikir keras bagaimana caranya untuk bisa jalankan tugas yang di embankan dapat selesai dengan baik. Apakah ada jalan keluarnya? Begitu pertanyaan pertama yang terbersit saat pertama kali datang ke Tasikmalaya. Pertama yang saya lakukan adalah saya menempatkan diri saya sebagai pelaku usaha atau dengan kata lain saya balik keadaannya, dan berpikir apa yang akan saya lakukan bila saya menjadi pelaku usaha tersebut dengan segala “atribut” yang tersandang dalam diri saya. Saya akan menerima orang lain bilamana orang tersebut ramah, sopan santun dan mau menghargai segala kekurangan yang saya. Sederhana sekali bukan? Ya, memang sangat sederhana dan tidak perlu mendapatkan gelar S1 dan bahkan S2 sekalipun untuk menjalankannya.

Hasil dari program DDS tersebut bisa dilihat dari karya-karya di bawah ini:

Dan dengan segala kerendahan hati kita, kita dapat meleburkan diri kita, ilmu pengetahuan kita, serta wawasan kita kedalam kehidupan yang sederhana ini untuk berkarya. Sehingga kita mampu memberikan solusi yang tepat guna kepada pelaku usaha yang kita bina.

Mungkin kelak nanti didalam dunia kreatif Indonesia akan menjadi bahasa pemersatu bangsa dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dimana nurani setiap insani Indonesia pada hakekatnya sama walau dipenuhi keberaneka ragaman. Biarkanlah nurani kita yang bekerja diiringi wawasan yang luas, ilmu pengetahuan yang tinggi serta kebersamaan dalam mewujudkan sebuah karya terbaik.


Tentang Penulis:
Iwan Sung, pengiat kerajinan tangan Indonesia, dan merupakan tenaga ahli di bidang transport packaging sejak thn 1996, ikuti jejak langkahnya dengan memfollow Instagramnya di @senikelontong serta mengirim email ke iwansung@gmail.com

1 Comment

  1. habri

    bisa beli dimana?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Theme by Anders Norén

%d bloggers like this: