PRODESINA

Media Informasi Seni & Desain

Ulasan

Eksistensi Desain Produk dan Tantangannya

Malam tadi saya dan beberapa teman di Komunitas Desain Produk Industri Indonesia (KDPII) sempat berdiskusi tentang apa sebenarnya permasalahan desain produk di Indonesia? Ya, topik yang berat untuk diperbincangkan di akhir minggu bukan? Haha! Namun sebenarnya bagi kita semua yang mencintai keberadaan bidang ini jadi sangat menarik, karena tanpa kita tahu apa saja permasalahannya maka kita akan terus menerus berkeliling kesana kemari tanpa bisa memecahkannya. Itulah yang menjadikan diskusi kemarin menjadi diskusi yang cukup menarik.

Apakah Desain Produk itu Dibutuhkan?

Jika kita bicara stakeholder, tentunya untuk menjaga eksistensi dari profesi dan juga bidang desain produk ini kita tidak bisa hanya melihat dari core keilmuannya saja, namun juga hulu serta hilir dan seluruh pihak yang sekiranya berkepentingan terhadap keberadaan bidang desain produk ini. Pertanyaan yang sangat-sangat mendasar yang muncul diawal diskusi adalah, apakah kebutuhan terhadap bidang desain produk ini ada? Mohon maaf walaupun pertanyaan ini mungkin dirasakan kurang ajar, namun kita harus jujur bahwa banyak pihak-pihak yang kita anggap sebagai stakeholder dari bidang desain produk ini makin lama makin bingung, mulai dari bingung mencari tenaga ahlinya (yang artinya mereka sudah paham atas keberadaan bidang ini) sampai yang completely tidak tahu bahwa bidang desain produk ini eksis.

Apa sebenarnya penyebab pertanyaan diatas itu muncul? Bukankah seharusnya sejak bidang ini diperkenalkan ke masyarakat dulu harusnya tidak ada lagi yang harus dipertanyakan?

Banyak orang lupa (termasuk sebagian besar dari kita) bahwa sebuah message tidak bisa hanya sekali-dua kali digaungkan namun harus secara konstan dan terus menerus digaungkan sampai message tersebut menjadi sebuah “kebenaran” dimata masyarakat. Bahkan seorang menteri propaganda NAZI, Joseph Goebbles sempat memberikan pernyataan yang sedikit banyak bisa menggambarkan kekuatan sebuah message:

A lie told once remains a lie but a lie told a thousand times becomes the truth

– Joseph Goebbles –

Goebbles menyatakan bahkan kebohongan pun bisa menjadi kebenaran jika terus menerus digaungkan, kita sering mendapati ini dalam konteks politik.

Dari pernyataan Goebbles tersebut, artinya sedikit banyak memang bidang desain produk ini kurang terekspos atau diekspos ke bukan hanya stakeholder mereka namun juga ke masyarakat pada umumnya. Jika para praktisi dan institusi serta stakeholder lainnya berharap bahwa message tentang keberadaan bidang ini bisa terus berlangsung sejak desain produk diperkenalkan di Indonesia (sekitar tahun 70an) maka kemungkinan itu yang menjadi pokok permasalahan mengapa pertanyaan tentang apakah desain produk ini dibutuhkan muncul ke permukaan hampir 40 tahun kemudian.

Apa yang akan terjadi jika Desain Produk tidak dikenal?

Paling sederhana ya permintaan akan tenaga ahli desain produk akan beresiko hilang juga. Karena bidang ini tidak dikenal maka stakeholder akan kembali ke pemahaman bahwa untuk memberikan kesatuan antara fungsi dan estetika dibutuhkan engineer (orang teknik) dan seniman/dekorator. Institusi pendidikanpun jadi tidak memiliki alasan yang kuat untuk membuat jurusan desain produk karena tidak ada demand bagi lulusannya. Sehingga ya tidak ada yang ingin masuk ke jurusan desain produk. Dilain pihak, kebutuhan akan pekerja ahli berbasis bidang seni akan naik untuk mengisi kebutuhan untuk kebutuhan mendesain produk.

Mengerikan? Ya mengerikan bagi para praktisi yang sudah ada sekarang, namun bagi stakeholder baru, hal ini biasa-biasa saja karena kebutuhan itu ditentukan oleh supply & demand, jika supply akan naik jika demand juga naik. Dalam hal ini demand akan jasa desain produk tidak akan pernah hilang, namun pertanyaannya bidang apakah yang akan jadi penyupply nya?

Saya pribadi sama sekali tidak yakin kalau bidang ini akan hilang, hanya saja menurut saya bisa saja penyebutannya saja berubah atau pelaku/eksekutornya diambil alih oleh mesin (AI). Ya kalau pelakunya mesin bukan berarti kekuatan pemikirannya juga bisa diambil oleh mesin, karena saya yakin kreativitas manusia itu tidak bisa tergantikan oleh AI.

Tantangan semakin besar: Pasar Global

Diskusi tadi malam akhirnya kembali shifting saat salah satu rekan, Noro Ardanto (LampuRuna) mengingatkan bahwa tantangan kita semua ini bukan hanya pasar lokal lho namun pasar global.

Sejak tahun 2015-2016 Indonesia memasuki kesepakatan yang berlaku di ASEAN yang namanya MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) dan ini adalah perwujudan nyata dari mulai terbukanya pasar kita menuju ke pasar global. Ya pasar global itu tidak terelakkan, untuk sekedar mengingatkan silahkan lihat vlog yang saya buat beberapa tahun lalu saat MEA diberlakukan:

Dengan adanya pasar global maka tantangan bagi bidang desain produk jadi semakin tinggi. Kesiapan menghadapi persaingan global akan membuat seluruh praktisi dan institusi pendidikan (yang menghasilkan praktisi) harus siap. Siap berkompetisi dikancah global serta untuk institusi pendidikan ya siap menghasilkan praktisi yang siap berkompetisi dikancah global tentunya.

Awareness terhadap bidang ini akan terkatrol dengan mulai munculnya tenaga-tenaga ahli dalam negeri yang bisa berperan di pasar global, ya tentunya dengan ekspos yang baik dari media.

Bagaimana menurut kalian?


Tentang Penulis:

Abang Edwin SA atau lebih dikenal dengan panggilan BangWin adalah seorang konsultan digital business dan creative thinking (Bangwin Consulting). Ia juga dikenal sebagai pionir dalam bidang online community management semenjak tahun 1998. Ikuti jejak langkahnya dengan memfollow @bangwinissimo dan Facebook ProfilenyaBlognya bisa dibaca di bangwin.net 

22 Comments

  1. Soma Wiraga

    Halo BangWin, ikutan diskusi yah.
    Sesuai dengan namanya, menurut saya peran disain produk industri, berkaitan erat dengan industrinya sendiri. Dari pengalaman kerja di Singapore sbg disainer produk, saya lihat disana banyak kebutuhan terhadap profesinya, karena banyak perusahaan dan kantor yang menggunakan jasanya, dari perusahaan lokal spt Osim, ataupun perusahaan asing yang investasi development disana seperti Phillips, Creative Labs, etc. Kalau dari sejarahnya salah satu yang mendorong growth konsultan disain produk di amerika, saat perkembangan electronics product , dimana mrk butuh disainer untuk membuat “casing2” yang kompetitif. Dari pembelajaran ini, saya ngeliatnya industri yang berkembang di Indonesia berbeda dengan industri yang telah berkembang di Singapore ataupun Amerika. Saya ga tau datanya, tp perkembangan industri craft atau furniture mungkin lbh besar di Indonesia, berhubung sumber daya alam yang banyak, dengan nilai investasi development yang tampaknya tidak sebesar industri otomotif.
    In the past few years, industri yang growthnya besar ada di IT & software, banyak investasi yang diberikan disana.

    Hardware…? Ada tanda2 akan kembali berkembang disana juga, karena mulai berkembang inkubator2 yang fokus di Hardware seperti Central Research Lab di UK.

    But then again, now customers are looking for the whole experience, the ecosystem, instead of a single artefact.

    • bangwin

      Thanks Wira atas komennya. Sepertinya kalimat terakhir pada komen nya Wira cukup menggambarkan situasi keseluruhan yang ada pada sisi konsumen. Now customers are looking for the whole experience, the ecosystem, instead of a single artefact….:-)

    • bangwin

      Oh iya……nambahin sedikit, betul sekali bahwa perkembangan desain produk industri sesuai dengan namanya berkaitan erat dengan industrinya sendiri. Problem yang ada kalau bicara pasar lokal, industri dalam negeri (yang saya sebut sebagai salah satu stakeholder) adalah awareness terhadap keberadaan bidang ini. Mungkin ini yang membedakan dengan industri di negara-negara maju seperti Singapore ataupun US, dimana mereka tahu apa yang mereka butuhkan sehingga menimbulkan demand terhadap keberadaan desainer produk industri tentunya. Hal tersebut kebanyakan tidak terjadi di industri lokal, oleh karena itu maka muncullah program-program pembimbingan yang dilakukan oleh IDDC (Indonesia Design Development Center) dibawah Kemendag untuk membina para pengrajin agar lebih melek desain.

      Sekali lagi memang kondisinya sangat berbeda dengan tempat dimana Wira pernah kerja, dimana awareness tentang keberadaan desain produk ini sudah cukup tinggi sehingga demandnya ikut naik. Dinegara ini, unfortunatelly we still have to work on that Wir….

      • Soma Wiraga

        IDDC memang bentuk strategis yang baik yah. Mungkin untuk langkah awal, untuk memfokuskan energi dan waktu, industri yang mana yang baiknya ditingkatkan awarenessnya..? Consumer electronics? Furniture? Automotive? Others?

        • bangwin

          Menurut saya sih semuanya berkaitan dengan kepentingan sih. IDDC disupport oleh Kemendag karena ada unsur mempush keberhasilan berkompetisi di pasar luar sehingga meningkatkan impor. Untuk saat ini ya produk-produk yang jadi sasaran ekspor keliatannya yang jadi target ya

  2. Nah, berarti memang dunia pendidikan despro harus sudah berpikir untuk “serving” pasar global. Peraturan DIKTI yg kurang responsif dg perkembangan pasar bisa diakali dengan meningkatkan intensitas kuliah umum oleh para praktisi professional dalam dan luar negri.
    Mungkin Bangwin bisa mulai mencari tahu industri dalam negri mana saja yg punya R&D yg baik dan sudah menggunakan tenaga kerja lulusan desain produk lalu mengeksposenya di media? PT. Pindad, PT. DI, PT. Inka, Maspion mungkin bisa jadi kandidat untuk diteliti?

  3. Dengan melayani pasar global, tidak akan sulit lagi manjawab pertanyaan calon mahasiswa dan orangtua tentang “lulusan despro mau kerja di mana?”

    • bangwin

      Benar!…..karena kalau lingkupnya diperluas menjadi global, tenaga-tenaga ahli desainer produk industri tentunya punya banyak kans untuk terserap….:-)

    • Soma Wiraga

      Baik Lokal ataupun Global, salah satu faktornya mungkin yang perlu diliat lagi adalah akses ya. Tentunya penyerapan lulusan kampus ke Lokal lbh mudah, karena sdh ada network yang terbangun sebelumnya. Namun untuk Global, spt apa ya bentuk akses yang sudah ada sekarang? Network antara kampus dengan perusahaan diluar indonesia? Wadah organisasi yang sudah memiliki network tersebut?
      Tampaknya lbh prospek menjaga pasar lokal, karena spt yang kt pernah bahas BangWin, orang2 lokal tau karakter lokal lbh baik, dan perusahaan MNC yang mau mulai jualan disini, blm mengerti itu, dan mencari partner2 yang bs membantu mereka untuk memiliki network pasar lokal.

      • bangwin

        Kalau bicara lokal ya kembali kita akan ke permasalahan awareness sih. Saat ini hampir semua institusi pendidikan sedang kritis karena minat calon mahasiswa terhadap jurusan desain produk industri ini menurun jauh. Mengapa demikian? Saya curiga (mudah2an kecurigaan saya salah) para calon mahasiswa ini tidak cukup terpapar dengan baik tentang apa itu bidang desain produk, sehingga awareness mereka terhadap bidang ini jadi rendah. Jika awarenessnya rendah maka demand juga secara otomatis akan turun.

  4. Suryo Artdiyanto

    Apakah desain produk dibutuhkan?
    Kalau ini adalah pertanyaannya, kepada siapa pertanyaan ini ditujukan, akan masing2 berbeda jawabannya.
    Kalau ditujukan kepada para desainer produk yg sudah mendapatkan penghidupan dari profesi ini dan pihak yg tahu manfaat keilmuan dan profesi ini pasti akan menjawab “dibutuhkan”.
    Kalau pertanyaannya ditanyakan kepada yg tdk tahu, kemungkinan besar jawabnya “tidak tahu”.
    Kalau ditanyakan kepada yg tidak tahu manfaatnya atau yang tidak perduli, pasti jawabannya ” tidak perlu”.
    Pertanyaan berikutnya yg muncul adalah: Bagi yg sudah mendapatkan manfaat dan mengetahui manfaat keilmuan dan profesi ini, apakah sudah optimal manfaat dan pemanfaatannya? Klu belum optimal, dimanakah ketidak optimalannya atau klu sudah optimal, bagaimana meningkatkan optimasinya. Jawaban dari pertanyaan ini akan berkorelasi erat atau dalam tataran esensi juga akan menjawab pertanyaan: “Apakah desain produk dibutuhkan?”
    Saya langsung saja ke salah satu dari aspek yg melatar belakangi pertanyaan tersebut, yaitu ttg “kelangsungan hidup”. Kelangsungan hidup dari siapa? Kelangsungan hidup masyarakatkah atau kelangsungan hidup para pelaku profesi ini? Masing2 pilihan akan dilandasi oleh perspektif masing2, yg seharusnyalah berhubungan.
    Pertanyaan berikutnya: Adalah apakah yg dibutuhkan dari “desain produk”?. Keilmuannyakah, profesinyakah atau hasilnyakah? Perspektif dari pilihan atau prioritas pilihan inilah yg seharusnya menjadi perhatian dari para pelaku dan pihak yg sudah mendapatkan manfaat dari keilmuan dan profesi ini, sehingga hasil/ produk/ manfaatnya bisa didapat baik oleh para pelaku maupun bukan. Baru kemudian, “apakah desain produk dibutuhkan?”, bisa dipetalan dan dioptimalkan, sebelum melangkah ke pemikiran dan tindakan berikutnya.
    (….bersambung ke acara diskusi berikutnya). Terima kaaih.

    • bangwin

      Thank you om Suryo atas komennya yang dipenuhi pertanyaan-pertanyaan runtutan. “Apakah desain produk dibutuhkan?
      Kalau ini adalah pertanyaannya, kepada siapa pertanyaan ini ditujukan, akan masing2 berbeda jawabannya”

      Tentu saja jawabannya akan berbeda-beda. Selain list pertanyaan yang mewakili pertanyaan-pertanyaan orang-orang, kira2 jawabannya om Suryo sendiri apa jika diberikan pertanyaan: “Apakah desain produk itu dibutuhkan?”

  5. Eko Prabowo

    Nimbrung sedikit:
    Hal kepedulian, pemahaman – awareness saja:

    Dari sisi kebiasaan yang tidak mendukung keberadaan profesi desain produk yang sudah digampangkan oleh masyarakat kita. Misalnya: tidak menulis kredit pada tampilan baik pada pameran, apalagi, yang paling krusial, pada publikasi yang menampilkan karya baik cetak maupun elektronik. Desain oleh:? Sumber, kontak dll. Reporter, Editor dan Redaktur perlu mempunyai budaya “share information” yang komplit.

    • bangwin

      Thank you mas Eko, artinya sebelum kita ngurusin profesi desain produk (atau bahkan profesi kreatif lainnya) pe er yang paling mendasar adalah bagaimana membuat masyarakat bisa sadar dahulu terhadap keberadaan hasil karya kreatif tersebut, bukan cuman sadar tapi juga bisa menghargai karya-karya tersebut sebagai karya cipta seseorang.

      Kalau gitu sebetulnya yang jalan ditempat bukan cuman desain produk dong ya? Selama masyarakatnya tidak bisa menghargai karya orang lain ya selama itu pula karya kreatif sulit berkembang yang dampaknya ya pada profesi-profesi desain tersebut. Bukan begitu ya mas Eko?

  6. Bas Junianto

    Desain produk tidak bisa dilihat secara ‘produk’ saja. Peran desain produk harus mencakup segala aspek kehidupan dan lebih jauhnya harus bisa menjadi problem solving agent bagi semua aspek.

  7. Pradipto S

    Tentu saja dibutuhkan,
    lalu kenapa pertanyaan “bangwin” (Apakah Desainer produk dibutuhkan?) diatas timbul?
    > Karena masyarakat luas tidak mengenal profesi ini, jadi boro boro membutuhkan, dikenal saja tidak secara merata, padahal kita perlu masyarakat mengenal secara luas agar para produk desainer bisa berkarya dan berguna.

    Kenapa tidak dikenal secara luas?
    > Karena kita tidak mempunyai strategi untuk mem “branding” profesi ini agar profesi ini segera dikenal secara luas, kita masing masing bergerak secara sporadis, sehingga tentu sosialisasi profesi ini menjadi sporadis pula. kiprah desainer produk hanya dikenal dalam lingkup tertentu,terutama dalam industri dimana desainernya berkecimpung.

    > lalu strategi apa yang sebaiknya dilakukan?
    1. Bersatulah kita melalui Asosiasi profesi. itu dulu, karena persatuan di asosiasi akan meneguhkan dan mendeklarasikan keberadaan kita di bumi Indonesia.
    Melalui profesi kita menajamkan strategi bersama samna secara nasional sehingga gaungnya dan hasilnya juga bersifat Nasional.
    2. Asosiasi berafiliasi pada asosiasi Desainer Produk Dunia, agar keberadaan kita
    diakui dunia.Luar mengakui dalam mengakui, tinggal kita garap masyarakatnya.
    3. Pakai semua saluran publikasi yang ada, untuk membentuk opini publik dengan cepat
    4. Apabila sudah pada masyarakat sudah sampai pada level “Tahu” maka segera ditingkatkan ke level “Kenal”. Tunjukkan semua karya karya besar Desainer produk Indonesia dalam pameran atau seminar agar masyarakat bisa menangkap “Value Creation” yang dihasilkan seorang desainer.
    5. Tingkatkan mutu pendidikan desain dengan cara lebih tajam ke arah industri yang sedang dan akan menjadi “future Industry”, misalnya harus mulai ada spesialisasi, Jurusan produk dengan spesialisasi Furniture misalnya. kita harus berani karena Industri butuhnya desainer yang memiliki keahlian khusus, bukan lulusan yang tanggung skill dan pengetahuannya.

    Apa yang dilakukan asosiasi saat ini sudah mengarah kesana, cuma magnitudenya kurang besar, kita butuh semua energy yang ada di teman teman alumni semua untuk meneruskan cita cita ini, demi profesi kita.

    Demikian,

    Salam Despro.

    • bangwin

      Thank you mas Dipto…..Mudah-mudahan pemaparan yang disampaikan oleh mas Dipto bisa ditangkap dengan baik oleh sebanyak-banyaknya desainer produk di tanah air tercinta ini….amiiiin

  8. Saya termasuk awam urusan desain produk. Bisa dibilang saya sebatas konsumen.

    Tentang tulisan Bangwin di atas saya melihatnya dari perspektif demand-supply. Ada kebutuhan, maka timbul penawaran. Ada penawaran, maka timbul permintaan.

    Saya akan melihat dari sisi konsumen. Konsumen memang membutuhkan sebuah benda. Umumnya karena fungsinya. Setelah itu faktor harga. Apakah masuk dalam range busget? Benda2 ini mungkin ngga banyak yg memerhatikan desainnya. Bagi kebanyakan orang yg penting: fungsinya & harganya. Meski saya sendiri sering ngga jadi beli sebuah produk hanya karena model/ tampilannya ngga suka.

    Jika mayoritas konsumen lebih mementingkan fungsi & harga, mungkinkah mereka peduli dgn tampilannya? Katakanlah rice cooker, kulkas, vacuum cleaner, TV LED, mesin cuci, dll. Kalaupun ada produk yg diperhatikan penampilannya selain fungsi & harga, paling2 kendaraan bermotor.

    Mungkin konsumen/ masyarakat inilah penentunya. Jika bagi mereka desain bukan prioritas, bagaimana mungkin discipline desain produk bisa maju?

    • nanangwidananto

      ekonomi yg di “drive” pasar ataupun produk kita sudah tahu dan merasakan. tapi ekonomi yg di dorong dan dipacu oleh desain, mungkin baru beberapa negara yg bisa melaksanakannya, sehingga menjadi penyumbang devisa. Artinya profesi atau keilmuan desain produk ditantang unjuk kinerjanya. Dalam bentuk matriks yg simpel. Salam desproyer.. 😁

  9. Suryo Artdiyanto

    Kalau permasalahannya hendak difokuskan pada “apakah masyarakat mengenal desain produk?” Atau ” perlukah masyarakat mengenal desain produk?”. Saya akan melihat dari 2 sudut pandang. Dari sudut pandang masyarakat dan sudut pandang desainer produk.
    1. Dari sudut pandang masyarakat: Apakah hal/ manfaat yg sudah/ akan didapat oleh masyarakat sehingga kami sebagai masyarakat perlu tahu ttg desain produk. Perlukah kami masyarakat tahu bahwa sikat gigi, kursi yg mereka gunakan adalah hasil kerja desainer produk? Mungkin beberapa mau tahu, mungkin beberapa tdk mau tahu. Knp? Mungkin karena bagi kami masyarakat, siapapun yg membuat kursi tersebut tdk penting karena mereka tdk akan pernah bersinggungan, berurusan dengan siapapun yg mrmbuat kursi tersebut, apakah itu desainer produknya, desainer konstruksinya, dll. Hal ini berlaku untuk kursi, sikat gigi, produk lain yg dibuat secara massal. Kalaupun ada keluhan ttg produk tersebut, kami akan mengeluh di sosmed, ke toko, atau ke perusahaan yg membuat. BUKAN KEPADA DESAINER. Demikian pula kalau kami masyarakat perlu sikat gigi atau kursi, kami akan mencari toko yg menjual sikat gigi dan kursi, kami pilih yg sesuai kebutuhan dan keinginan kami. BUKAN MENCARI DESAINER yg bisa membuat sikat gigi, kursi untuk kami. Beda kasusnya dengan desainer interior, desainer baju, desainer yg mmg dicari oleh masyarakat saat mereka membuat rumah misalnya. Hal yg sama juga terjadi di profesi lain, misalnya dokter, pengacara, notaris, dll. Masyrakat mau tahu, mau kenal, krn mereka akan berhubungan dengan pelaku2 profesi tersebut. Hal yg sama juga akan terjadi pada desainer produk yg kebetulan menekuni pekerjaan dimana mereka bersinggungan langsung dengan masyarakat yg memerlukan mereka. Sesering apa mereka dibutuhkan, itu konteks permasalahan yg lain halnya dengan topik bahasan ini, setidaknya pada tataran ini. Banyak profesi lain yang mungkin masyarakat tdk tahu pada awalnya (seperti dokter spesialis torak, jaringan, dll) tapi seiring perkembangan kesehatan dan penyakit, profesi2 ini jadi dikenal, krn masyarakat butuh tahu dan kenal mereka, krn masyarakat berhubungan langsung dengan mereka. Karena masyara tidak saja mendapatkan manfaat mereka tapi juga perlu berhubungan langsung, karena kesehatan bersifat individu, private dan esensial bagi seseorang dan juga masyarakat.
    2. Dari perspektif desainer produk: Ujinkan saya bertanya ” Bagaimana seandainya kita semua sebagai desainer hidup makmur, punya rumah keren, punya ferrari semua, dari pekerjaan kita sebagai desainer, dan MASYARAKAT TDK MENGETAHUI KEBERADAAN KITA, bahwa kita ada, bahwa ada profesi desainer produk. APAKAH PENTING bagi kita, bahwa masyarakat harus tahu bahwa ilmu dan profesi kita ada? Ataukah mereka cukup perlu tahu bahwa kalau mau bikin kursi yg bagus ke pak Warto saja. Saat ini, isue bahwa profesi kita ada, perlu di kenal oleh masyarakat, karena sebagian dari kita masih harus berjuang utk hidup/ hidup susah/ belum kaya secara konstan sebagai desainer.
    Desainer produk sebagai profesi mempunyai karakternya sendiri, sama dengan profesi lain dengan masing2 karakter profesinya. Swbagian dari profesi ini tdk berdiri sendiri, bekerja sama dengan profesi lain (yg mungkin juga tdk dikenal oleh masyarakat, dan mungkin juga tdk peduli apakah profesi mereka dikenal atau tidak). Sebagian dari kita bekerja diperusahaan pembuat produk/ merk yang DIBUTUHKAN OLEH MASYARAKAT. Sehingga yg dikenal oleh masyarakat adalah industri, perusahaan, merknya. Perusahaan tersebut yg menggaji kita sebagai desainer. Mereka menggaji kota karena mereka butuh profesi kita, karena mereka mendapatkan manfaat dari keilmuan kita.
    Dalam bahasan saya ini, sepertinya lebih masuk akal kalau yang perlu tahu kita adalah INDUSTRI/ PERUSAHAAN/ MERK. Kalau gaji kita masih kecil, sudahkah profesi kota memberikan manfaat yg besar kepada perusahaan? Sudahkah keilmuan kita memberikan keuntunganyg sangat besar bagi perusahaan, sehingga kita layak diupah sangat besar? Bagaimana dengan profesi lain yg sudah bekerja sama dgn profesi kita, apakah mereka melihat manfaat keilmuan kita, yg bersinergi dgn keilmuan mereka, krn perbedaan yg saling mengoptimasi. Jangan2 mereka justru melihat sebagai ancaman, atau bahkan lelucon saja, karena keilmuan kita tumpang tindih dgn keilmuan mereka, atau keilmuan ya sama dengan keilmuan yg mereka tdk perlukan, misalnya disamakan dengan pelukis, pengrajin, atau yg lain.
    Kita perlu lebih jernih menilik isue ini supaya strategi, tindakan yg mau diambil adalah yg terbaik.
    Terima kasih

Leave a Reply

Theme by Anders Norén

%d bloggers like this: