Ulasan

Mahasiswa Desain Produk: Mau Kerja Dimana Kalau Lulus Nanti?

Ada satu pertanyaan yang membuat beberapa rekan yang berkecimpung di dunia akademisi menghela nafas panjang pada saat harus mempromosikan bidang desain produk bagi calon mahasiswa baru. “Kira-kira lulusan mahasiswa jurusan desain produk itu nantinya kerja di mana ya?”. Jawaban alamiahnya tentunya akan bekerja di industri yang menghasilkan produk-produk yang didesain, dimana para mahasiswa lulusan jurusan desain produk akan jadi desainer produknya. Tapi apakah benar demikian? Berapa banyak mahasiswa jurusan desain produk bekerja ditempat yang sesuai dengan apa yang dijanjikan oleh kampus mereka saat mereka memutuskan pilihan mereka untuk kuliah?

Masalah angka statistik sudah tentu saya tidak bisa menjawabnya (bagi ada yang memiliki datanya boleh lho di share dibagian komen di bawah), namun saya cukup yakin bahwa sebenarnya tidak ada satu kampus yang memiliki jurusan desain produk di Indonesia yang bisa menjanjikan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan yang mereka berikan jika mereka tidak bisa beradaptasi pada perubahan jaman. Mengapa demikian? Ya simply karena perubahan-perubahan yang terjadi pada kebutuhan akan solusi desain itu sendiri. Saya curiga ini juga yang menyebabkan mengapa permasalahan ketidak eksisan profesi desainer produk di tanah air, selain tentunya permasalahan klasik dimana banyaknya desainer-desainer yang tidak memiliki kemampuan “jual diri” yang cukup baik.

Kembali ke masalah pertanyaan di atas, berapa banyak dari kita yang sadar bahwa sebenarnya value dari seorang desainer produk itu juga sudah banyak berubah dibandingkan satu dekade yang lalu? Profesi tersebut mengerucut menjadi setidaknya ada 3 arah. Pertama lulusan jurusan desain produk itu di hired untuk mengembangkan desain-desain baru dari sudut pandang looks & feels dari produk yang dihasilkan. Yang kedua mereka diharapkan untuk bisa mengembangkan konsep produk yang baru. Dan yang ketiga mereka diharapkan menjadi problem solver bagi masalah-masalah yang berdampak pada kelangsungan produk sampai bahkan kelangsungan bisnisnya itu sendiri.

Banyak yang tidak sadar bahwa sebagai seseorang yang telah mengenyam pendidikan desain produk, kita memiliki pondasi yang sangat powerful yang tidak dimiliki oleh profesi lain, yaitu kemampuan berpikir secara kreatif (creative thinking) yang disebut dengan istilah Design Thinking.

Dua orang lulusan Stanford, Tim Brown dan David Kelley, founder dari salah satu biro desain terkemuka di Amerika Serikat, IDEO bahkan mempopulerkan Design Thinking tersebut sebagai salah satu kemampuan problem solving yang bisa digunakan oleh bidang-bidang yang lebih luas (tidak hanya desain), yang secara tidak langsung mengangkat profesi desainer menjadi profesi yang mengetengahkan pendekatan problem solver untuk berbagai bidang. Menjadi seorang desainer produk tidak lagi diharuskan melulu hanya menghasilkan produk-produk dengan nilai estetika yang tinggi namun juga tetap memiliki nilai yang tinggi bila ditempatkan pada posisi-posisi yang strategis karena cara berpikir mereka yang kreatif. Dan saya pikir justru menjadi seorang desainer produk adalah profesi yang paling robust, seharusnya ya….that’s my opinion for sure.

Kembali ke pertanyaan, “mau kerja di mana nanti kalau lulus?” Apakah masih relevan jika kita menjanjikan mereka bahwa mereka dipersiapkan menjadi seorang desainer? Apakah perlu kita mendefinisikan kembali pengertian dari desain itu sendiri? I leave it up to you to answer this question…:-)


Tentang Penulis:

Abang Edwin SA atau lebih dikenal dengan panggilan BangWin adalah seorang konsultan digital business dan creative thinking (Bangwin Consulting). Ia juga dikenal sebagai pionir dalam bidang online community management semenjak tahun 1998. Ikuti jejak langkahnya dengan memfollow @bangwinissimo dan Facebook ProfilenyaBlognya bisa dibaca di bangwin.net 

4 Comments

  1. Yudi Jodjana Gunaramiang

    Secara abstraksi saya setuju dengan Tim Briwn & David Kelley bahwa problem solving melalui creative thinking adalah naturenya Product Designers. ‘Roots’ dari Product Design adalah visual solution tapi behind of it all adalah way of thinking, yg Edward De Bono katakan lateral thinking is source of creative..si dont be afraid kalau sudah graduate sebagai product designer. Hari Kamis yg lalu saya juga memberikan pandangan The Future Product Designer kepada calon mahasiswa di Universitas Paramadina juga demikian, ternyata wawasan mereka sudah jauh dan mengarah ke entrepreneurship. Proud of you Product Designer, salam DP✊

  2. Iwan Sung

    Mantap nih tulisan…Bangwin.
    Sekedar sharing aja…ya. Intinya “passion” dulu nanti akan punya “jam terbang”. Dari situ akan berkembang dengan sendirinya jika tetap fokus ditujuan yg kita impikan.
    Product Designer sudah dibekali ilmu2 yg mumpuni…lengkap!. Tinggal mau apa tidak ambil resiko buat masa depan kita sendiri. Selamat berkarya…!!!

  3. Kalau ingin menjawab pertanyaan ini, langkah pertama adalah mendapatkan data berapa banyak Sarjana DP yang bekerja sebagai Desainer Produk. Lalu selanjutnya adalah: Kenapa tidak bekerja di bidangnya? Bahwa kuliah Desain Produk membekali Sarjana DP dengan skill Creative Thinking atau Design Thinking, menurut saya itu hal yang berbeda. CMIIW.

    Mengenai Sarjana DP yang kemudian bisa bekerja “di mana saja” itu adalah blessing, tetapi tidak by design. Sehingga pertanyaan BangWin di atas tetap belum terjawab setelah lebih dari 25 tahun (atau lebih?)yang lalu pertanyaan itu muncul.

  4. Suryo Artdiyanto

    Kalau pertanyaan “setelah lulus nanti akan kerja dimana” itu datang dari calon mahasiswa baru, menurut saya itu lumrah bin normal, namanya juga calon mahasiswa. Klu yg ditanya adalah para dosen, dan mereka bingung menjawabnya, nah itu adalah aneh menurut saya. Kebetulan saya juga adalah dosen pada disiplin ilmu ini, dan saya tdk ragu utk menjawab akan bekerja dimana mrk nanti. Perihal apakah nantinya ada yg berhasil atau tidak, itu hal yg berbeda krn sejatinya hal yg sama juga dialami oleh semua lulusan pendidikan yg mencari pekerjaan. Kompetensi adalah salah satu elemen kuncinya. Cara menjual kompetensi itu adalah hal lainnya lagi, krn untuk menjadi pekerja yg profesional juga memerlukan kualitas lainnya diluar kompetensi keahlian. Kompetensi yg menawan akan menjual dgn sendirinya, kemampuan untuk menjual kompetensi itu akan memaksimalkannya. Kualitas pribadi yg hebat akan membuatnya paripurna. Kembali ke isu “pertanyaan” tsb. Klu kita para dosen sudah merasa gundah dgn jawaban atas pertanyaan tersebut, mungkin itu saatnya kita merefleksi apa yg selama ini sudah kita lakukan, sudah tepatkah level kompetensi yg kita bekalkan pada para mahaaiswa selama mereka kita didik. Pertanyaan yg sebenarnya akan muncul berikutnya adalah: Sudah tepatkah level kompetensi kita sebagai dosen? Yg mampu menghasilkan lulusan yg kompetensinya juga tepat.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Theme by Anders Norén

%d bloggers like this: