PRODESINA

Media Informasi Seni Rupa & Desain

Wawancara

[Wawancara] Noro Ardanto: Desainer Produk Harus Peka Terhadap Masalah Sosial

LampuRUNA adalah sebuah penyegaran. Anda pasti akan setuju dengan pendapat pribadi saya tersebut bila melihat desain-desain yang dihasilkan oleh pasangan Noro dan Intan dalam merancang serial lampu duduk yang mereka beri nama LampuRUNA yang namanya diambil dari kependekan anak-anak mereka yaitu Rumi dan Narini.

Mengikuti perjalanan LampuRUNA ini membuktikan bahwa kejelian membaca pasar dipadukan dengan kemampuan mendesain produk akan bisa jadi pondasi yang tepat untuk memulai sebuah usaha berbasis desain.

Banyak hal-hal menarik yang bisa kita semua pelajari dari perjalanan pasangan Noro dan Intan dalam membangun brand LampuRUNA, ketika sekilas saya ngobrol dengan mereka, oleh karena itu saya memutuskan untuk mencoba untuk menggali lebih dalam dengan mewawancara salah satu founder dari LampuRUNA, Noro Ardanto. Simak dibawah ini wawancara saya dengan Noro.

Bangwin: Hi Noro….Boleh diceritakan sedikit apa latar belakang pendidikan serta pengalaman kerja secara singkat Noro?

Noro: Hi Bang, saya lulusan FSRD Universitas Trisakti jurusan Desain Produk. Sejak lulus saya melihat industri home furnishing Indonesia punya peluang besar untuk dikembangkan lebih jauh dengan menambahkan proses pengembangan produk baru yang lebih baik. Modalnya utamanya antara lain adalah keahlian para perajin kita dan bahan alam yang jarang dimiliki bangsa lain.

Setelah bekerja di home furnishing retailer “Floral Home” sebagai desainer produk, saya menjajal masuk ke industri manufaktur furniture dan polyester resin sebagai R&D supervisor di Indogift C.I untuk lebih mendalami aspek produksi masalnya.

Dengan pelanggan utama Hallmark (poly-resin figurines), Wallmart serta Pottery Barn (furniture), saya mulai mengenal juga cara kerja para retailer internasional dan mulai mempelajari pasar ekspor.

Saat ini saya memproduksi handicraft yang terbuat dari akar bambu dan kayu untuk pasar terutama Eropa dan sebagian ke Amerika.

Saat ini juga, bersama istri saya Intan Pradina, kami melakukan eksperimen, mengembangkan brand LampuRUNA. LampuRUNA merupakan artwork berbahan kayu, yang diukir oleh para perajin tradisional, namun diberi sentuhan desain yang lebih relevan dengan tujuan pasar yang kami sasar. Bukan sekedar lampu, LampuRUNA adalah karya seni yang diberi fungsi sebagai lampu meja.

Noro Ardanto & Intan Pradina

Dengan sasaran pasar kelas menengah atas, sejauh ini LampuRUNA masih berada di jalur yang tepat untuk bisa memberikan penghargaan yang lebih besar (terutama secara materi) kepada para perajin tradisional ini, serta menjadikan karya mereka sebagai tuan rumah di negeri sendiri.

Bangwin: Terima kasih Noro….Menarik!….Artinya dalam perjalanannya sebelum akhirnya Noro dan Intan mengembangkan LampuRUNA, banyak pelajaran tambahan yang Noro dapatkan yang tentunya bisa membekali Noro di LampuRUNA ya, kalau saya lihat Noro belajar industri manufaktur furniture kemudian juga belajar cara kerja retailer. Menurut Noro seberapa penting institusi pendidikan memberikan tambahan ilmu tersebut terhadap mahasiswanya agar bisa menentukan jalan karir mereka? Ada usulan gak Nor?

Noro: Pastinya sangat penting. Paling tidak membuka wawasan kepada para mahasiswa tentang kondisi lapangan pekerjaan mereka di dunia nyata, dan apa2 yang mereka perlu siapkan.

Sedikit berbagi pengalaman, saya pernah juga mengajar dua mata kuliah di fakultas desain, Universitas Indonesia Esa Unggul sebanyak dua semester, dan saat ini rutin diminta untuk berbagi pengalaman pada pelatihan ekspor yang diadakan oleh Pusat Pengembangan Ekspor Indonesia. Dari pengalaman ini ada beberapa hal yang mungkin bisa menjadi masukan untuk dunia pendidikan kita:

  1. Pentingnya memberikan konteks dunia nyata pada tiap materi kuliah. Jadi mahasiswa tahu persis kenapa mereka perlu mempelajari suatu mata kuliah. Jika dilakukan dengan baik, hal ini ternyata bisa meningkatkan minat mahasiswa pada topik/mata kuliah yang sedang dipelajari, bahkan untuk mata kuliah yang dulu sering saya anggap membosankan seperti teori desain dan sejarah desain.
  2. Tidak bisa dipungkiri, banyak pengajar di fakultas desain yang langsung mengajar setelah lulus, sehingga tidak/kurang memiliki cukup pengalaman di “dunia nyata”. Kenyataan ini membuat peran dosen tamu dari kalangan profesional menjadi sangat penting untuk menjembatani antara teori dengan pelaksanaan, kendala dan solusinya di lapangan.
  3. Pengenalan sejak dini tentang profesi-profesi dan peluang usaha sebagai desainer produk yang tersedia, baik di dalam negri maupun negara-negara yang lebih maju juga pasti akan sangat membantu membuka wawasan mahasiswa sehingga mereka bisa merencanakan arah karir mereka sedini mungkin.

Bangwin: Ok nah sekarang bagaimana dengan LampuRUNA. Kedepannya akan seperti apa yang Noro harapkan dengan LampuRUNA? Boleh sekalian diceritakan pencapaian-pencapaian seperti apa yang sudah dicapai oleh LampuRUNA?

Noro: Kedepannya tentu saja kami berharap LampuRUNA semakin dikenal secara luas.

Kami terus berusaha agar semakin banyak para perajin yang mendapat manfaat dari LampuRUNA. Terutama dari sisi penghargaan secara materi, karena ini salah satu kunci utama, bisa atau tidaknya keahlian tradisional Indonesia yang hebat ini dilestarikan hingga jauh ke masa yang akan datang.

Perajin pembuat produk lampu di LampuRUNA

Sebagai gambaran, ada seorang “Empu” pematung yang sangat ahli, lebih memilih berjualan nasi kuning karena tidak dapat menghidupi keluarga dari keahliannya mematung. Oya, mereka ini rata-rata berasal dari Jawa Barat dan kebanyakan awalnya berprofesi sebagai perajin wayang golek, yang saat ini pasarnya jauh menyusut.

Kami sengaja belum berusaha melestarikan wayang golek, karena lebih penting menyelamatkan keahlian para pembuatnya, dengan mengembangkan produk2 yang lebih mudah diterima pasar saat ini.

Wayang golek bisa dibuat kapan saja jika para perajinnya masih ada. Lain halnya jika para perajin jini banyak yang beralih profesi dan para pemuda menganggapnya tidak layak diandalkan sebagai sumber nafkah ; Tidak mustahil keahlian yang luar biasa ini akan hilang selamanya.

Saat ini LampuRUNA sudah cukup dikenal di kalangan artisan, arsitek, dan interior designer, sehingga kami mulai manggarap pasar “architecture/interior projects”.

Produk-produk LampuRUNA

Pencapaian LampuRUNA yang menyenangkan antara lain:

a. Kami menjadi salah satu peserta yang diundang untuk mengikuti pameran tahunan ICAD 2015 – Indonesian Contemporary Art and Design. Menyaksikan karya kami bersandingan dengan karya para seniman, arsitek dan interior designer muda berbakat serta para senior, adalah salah satu momen penting dalam perjalanan LampuRUNA. Ketika itu kami sengaja mengajak beberapa perajin untuk ikut menyaksikan karya-karya mereka yang dipamerkan. Ini salah satu cara kami meningkatkan semangat para perajin.

b. Di tahun 2015 juga, LampuRUNA terpilih menjadi salah satu brand ambassador Legal Wood Indonesia, karena dianggap bisa mewakili gambaran tentang produk kayu kontemporer yang didesain dengan baik serta menggunakan bahan baku kayu secara bertanggung jawab.

Pernah mengekspor produk kami ke Amerika dan Eropa, namun penggunaan brand pembeli dan margin keuntungan yang tidak sesuai target, membuat kami fokus ke pasar retail lokal. Pasar ekspor akan kami garap kembali jika sudah berhasil membuat image LampuRuna cukup kuat, sehingga pencantuman nama LampuRUNA bisa disyaratkan kepada para calon pembeli ketika meraka hendak menjual kembali produk – produk hasil karya kami.

Saat ini LampuRuna masih dalam tahap “bayi” karenanya, meluaskan pasar sambil mengabarkan idealisme kami, masih menjadi fokus utama. Mimpi kami, di masa depan RUNA bisa menjadi sebuah rumah desain. Bisa jadi akan muncul RUNA-RUNA lain seperti Kursi-RUNA, Meja-RUNA dan lain sebagainya.

Bangwin: Terima kasih Noro…..pertanyaan yang terakhir nih ya Noro, apa saran dan pesan Noro bagi teman-teman mahasiswa jurusan Industrial Design atau siapapun yang tertarik untuk bekerja dibidang yang berkaitan dengan Industrial Design supaya bisa sukses dalam mencapai apa yang mereka inginkan di bidang ini.

Noro: Menurut saya ada beberapa hal yang harusnya menjadi sikap dasar kita sebagai desainer produk yang ingin terus bergerak maju.

1. Peka terhadap masalah sosial di sekeliling kita dan selalu tergelitik untuk mencari solusinya. Produk yang sukses, selalu yang berhasil menyentuh kebutuhan masyarakat banyak..

2. Sekuat mungkin berpijak pada budaya kita sendiri. Kita tidak akan mungkin mengejar ketertinggalan kita dengan hanya mengekor bangsa yang lebih maju. Jepang, Korea dan India bisa dijadikan contoh nyata sebagai bangsa yang sangat pede dengan budayanya sendiri dan memanfaatkannya untuk kemajuan bangsa.

3. Pengetahuan yang mendalam tentang bahan industri, proses produksi masal dan penjualan akan sangat membantu kita menghasilkan desain-desain yang masuk akal untuk diproduksi dan memiliki nilai komersial yang baik.

4. Dibandingkan dengan arsitek atau desainer interior, kita memerlukan dana yang relatif jauh lebih murah untuk menghasilkan suatu karya. Gunakan kekuatan ini untuk terus berkarya ataupun memperkuat portfolio kita.

Bangwin: Terima kasih Noro

Noro: Oh iya, sedikit informasi tambahan, saat ini banyak perusahaan2 dari negara maju yang dengan maksud menyegarkan produk mereka, mulai melombakan kebutuhanmereka akan desain-desain baru secara global. Harus kit gunakan sebaik2nya kesempatan ini. Desall.com adalah salah satu situs yang menyediakan daftar lomba-lomba desain yang sudah, sedang dan akan berlangsung.


Tentang Penulis:

Abang Edwin SA atau lebih dikenal dengan panggilan BangWin adalah seorang konsultan digital business dan creative thinking (Bangwinissimo Consulting). Ia juga dikenal sebagai pionir dalam bidang online community management semenjak tahun 1998. Ikuti jejak langkahnya dengan memfollow @bangwinissimo dan Facebook ProfilenyaBlognya bisa dibaca di bangwin.net 

Leave a Reply

Theme by Anders Norén

%d bloggers like this: