PRODESINA

Media Informasi Seni & Desain

Wawancara

[Wawancara] Jeff Andrew Sihombing: Jangan Pelit Berinvestasi pada Diri Sendiri

Nama Jeff Andrew Sihombing mungkin terasa asing bagi kita semua namun bisa kita sebut brand-brand besar seperti SonnyEricsson, Lenovo dan Huawei sempat mendapatkan buah hasil pemikirannya dalam rancangan produk-produk teknologi yang mereka produksi.

Saat ini Jeff berdomisili di Shenzhen, China karena ia bekerja sebagai Industrial Designer & CMF Designer dari brand besar asal daratan China, Huawei, dan saya sangat beruntung bisa mendapatkan waktu untuk mewawancara Jeff disela-sela kesibukkannya bekerja.

Dalam wawancara ini, kita bisa mendapatkan kisah bagaimana Jeff memulai karirnya sampai akhirnya ia bisa dibilang mendapatkan “positioning” kuat di industri teknoogi sebagai CMF designer (nanti dalam wawancara akan ada penjelasan tentang apa itu CMF designer). Tanpa harus berpanjang-panjang lagi mari kita simak wawancara saya dengan Jeff: 

Bangwin: Hi Jeff….kita mulai wawancara ini dengan pertanyaan yang mendasar karena saya yakin pembaca juga perlu kenal sedikit lebih dalam siapa kah seorang Jeff Andrew Sihombing itu.

Boleh diceritakan sedikit apa latar belakang pendidikan serta pengalaman kerja secara singkat Jeff?

Jeff Andrew: Halo Bangwin, Thank you atas kesempatan yang diberikan ini ya, saya langsung aja Bang ke pertanyaannya sekalian perkenalan diri:

Setelah lulus dari SMUN 3 Jakarta saya memutuskan untuk mengambil program S1 di jurusan Desain Produk di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti, tahun angkatan 2000-2004.

Tahun 2005 saya memulai karir saya sebagai desainer sepatu di KMK Global Sports, yaitu salah satu manufaktur sepatu Nike dan Converse di Tangerang. Proyek yang saya kerjakan cukup bervariasi dari mulai membuat konsep sepatu lifestyle, membuat shoe sample, hingga presentasi dihadapan para stakeholders dan decision makers.

Kemudian tahun 2008-2009 saya bekerja di Lawton&Yeo Design Associate, sebuah konsultan desain di Singapura yang bekerja sama dengan SonyEricsson. Saya bekerja sebagai seorang desainer produk hand phone dengan spesialisasi Color, Material & Finishing, atau lebih dikenal sebagai CMF Designer. Disini saya mengerjakan berbagai proyek milik SonyEricsson mulai dari Bluetooth Earphone hingga Walkman feature phone.

SonyEricsson’s Walkman

Tahun 2009-2010 saya kembali ke Jakarta dan diminta untuk membantu mengembangkan tim desain di Innoxindo, sebuah anak perusahaan dari KMK Global Sports, dimana saya berkesempatan untuk membagi ilmu desain yang saya miliki kepada beberapa desainer produk Indonesia yang menurut saya memiliki potensi dan talenta yang sangat handal. Disini tim kami juga mendapat kesempatan untuk berkolaborasi dengan Nike Indonesia untuk terlibat dalam mengerjakan  proyek Nike “Batik Series” special edition yang dibuat khusus untuk menyambut kedatangan Presiden Barack Obama.

Tahun 2010-2012 saya kemudian bekerja di Bluelounge, sebuah perusahaan yang mendesain dan menjual produk-produk unik dengan gaya minimalis, dimana saya bertanggung jawab untuk mendesain satu set koleksi tas urban lifestyle yang  menggunakan bahan Recycled-PET yang terbuat dari botol plastik bekas yang didaur ulang.

Bluelounge Bags

Tahun 2012 saya dihubungi oleh Lenovo, salah satu brand komputer, dan mendapat tawaran untuk bekerja di Beijing sebagai CMF designer untuk divisi laptop dan tablet PC. Beberapa proyek yang saya kerjakan adalah laptop Lenovo Yoga dan Y-series.

Lenovo Y-Series

Awal 2014 saya diminta untuk bekerja sebagai konsultan di Yota Devices di Singapura, sebuah tech startup asal Rusia, dan bertanggung jawab sebagai CMF designer untuk smartphone dual-display mereka yaitu YotaPhone 2.

Yotaphone

Menjelang akhir proyek tersebut saya dihubungi oleh Huawei dan mendapat tawaran untuk bekerja di Shenzhen, tempat saya bekerja hingga saat ini, sebagai desainer produk dan CMF designer untuk smartphone seperti Mate series dan Honor series.

Bangwin: Thanks Jeff atas perkenalan dan cerita perjalanan karir Jeff sejak lulus sampai sekarang di Huawei. Jika diperhatikan perjalanan karir Jeff cukup konsisten ya, berangkat dari seorang desainer sepatu lalu mengerucut ke seorang CMF desainer. Dalam perjalanan karir Jeff sendiri tentunya pengalaman demi pengalaman akan memperkaya wawasan pengetahuan menjadi seorang desainer secara utuh ya, kira-kira Jeff bisa share tantangan seperti apa yang paling berkesan dalam menjalani karir Jeff sebagai seorang desainer selama ini?

Jeff Andrew: Tantangan yang secara konsisten saya hadapi di perjalanan karir saya bisa dibagi menjadi 3 hal, yaitu: tantangan dalam mendapatkan insight dan mengeksekusi ide desain agar dapat diproduksi massal, kemudian tantangan untuk selalu melatih dan mempertajam keahlian kita dalam menggunakan peralatan mendesain seperti membuat sketsa maupun menggunakan software desain, dan yang terakhir adalah tantangan dalam berkomunikasi dan menyampaikan ide desain kita secara efektif dan meyakinkan ke berbagai stakeholder yang memiliki agenda berbeda-beda.

Dari 3 tantangan tersebut yang paling menantang adalah yang pertama: mencari insight dan mengeksekusi ide desain. Insight yang dimaksud disini termasuk mencari inspirasi estetika, fungsi/fitur yang baru, maupun teknologi manufaktur yang inovatif. Nah kalau sudah mengenai teknologi, rajin membaca baik dari buku maupun internet aja belum cukup karena meskipun informasi mengenai berbagai kemajuan teknologi sangat berlimpah di internet, namun kalo kita tidak tahu bagaimana cara mengakses siapa partner (vendor/supplier) yang memiliki teknologi tersebut maka informasi tersebut tidak akan berguna. Dari pengalaman saya sejauh ini, mengeksekusi ide jauh lebih sulit dibandingkan  dengan mencari ide.

Oleh karena itu, salah satu tugas sekaligus tantangan dari desainer-yang umumnya tidak tertulis di job description-adalah kemampuan networking dan membangun mutual trust dengan vendor/supplier agar dapat bertukar pikiran serta menggali informasi mengenai teknologi yang saat ini tengah mereka kembangkan namun belum terbuka untuk komersial. Informasi ini sangat berharga karena apabila informasi tersebut bisa kita dapatkan maka bukan hanya pengetahuan akan teknologi saja yang akan bertambah, namun ide estetika atau fitur-fitur baru juga akan kita dapatkan. Dan yang terpenting adalah kepastian ide desain kita bisa diwujudkan dan diproduksi secara massal.

Bangwin: Ok, terus terang saya penasaran dengan profesi yang Jeff sempat sebut di awal perbincangan kita, Color, Material & Finishing (CMF) Designer. Setelah beberapa kali Jeff menggeluti bidang tersebut sepertinya justru Jeff menjadi lebih dikenal sebagai CMF Designer dikalangan industri terkait. Boleh dijelaskan tidak apa perbedaan profesi CMF Designer dengan Industrial Designer pada umumnya? Lalu apa yang membuat Jeff tertarik mengambil spesialisasi sebagai CMF Designer pada perjalanan karir Jeff?

Jeff Andrew: Sebelum saya jelaskan perbedaannya mungkin akan lebih mudah kalo kita memahami persamaannya dahulu.

Dari pengalaman saya sejauh ini sekitar 90% CMF Designer yang saya temui memiliki latar belakang pendidikan dan mengawali karir sebagai Industrial Designer. Sisanya yang 10% ada yang dari dari jurusan lain, salah satunya material engineering. Jadi bisa dibilang dari yang 90% tadi memiliki persamaan yang cukup signifikan dalam konteks pengetahuan dasar perancangan produk. Mindset yang kita miliki serupa dan peralatan mendesain yang kita gunakan juga kurang lebih sama, bahkan dalam sesi-sesi brainstorming keduanya akan saling bertukar ide dan sketsa tanpa dibatasi oleh titel masing-masing. Artinya disaat eksplorasi ide tersebut, seorang CMF Designer dapat memberikan ide bentuk, dan sebaliknya seorang Industrial Designer juga bisa memberikan ide material.

Jeff’s sketch

Jeff’s sketch

Perbedaannya ada di fokus pekerjaan dan tanggung jawab saat mengeksekusi ide-ide yang didapatkan dari sesi brainstorming tadi.

Didalam proses desain mobile phone, seorang Industrial Designer bertanggung jawab dalam membuat bentuk perangkat tersebut menggunakan software parametrik, termasuk memperhitungkan pertimbangan teknis seperti dimensi, layout komponen elektronik, metode produksi, metode perakitan, cost, dan sebagainya.

Sementara seorang CMF Designer bertanggung jawab dalam memilih warna, material serta finishing yang akan digunakan di mobile phone tersebut, dan memastikan semua elemen CMF ini bisa diimplementasikan secara konsisten sampai tahap mass production.

Proses CMF

Proses CMF

Kalau kita perhatikan, produk-produk elektronik sejak tahun 2007 memiliki kecenderungan menggunakan design language yang simple dan minimalis. Sehingga menggeser fokus visual yang sebelumnya didominasi oleh bentuk yang kompleks kearah kualitas warna, material dan finishing dari produk tersebut.

Untuk produk mobile phone hal ini menjadi semakin esensial karena produk ini tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat komunikasi saja melainkan sudah menjadi alat berekspresi dan fashion statement mereka, bahkan sebagian menganggap mobile phone sebagai salah satu social currency dalam menentukan kelas sosial mereka. Dan CMF Designer bertanggung jawab untuk memastikan semua ekspektasi tersebut dapat diakomodir melalui penggunaan warna, material dan finishing yang relevan dengan aspirasi, karakter dan gaya hidup mereka.

Yang membuat saya tertarik mendalami CMF.

Saya memiliki ketertarikan dalam bidang seni, sains dan teknologi, dan menurut saya CMF adalah middle ground dari ketiganya.

Dalam mengeksplorasi warna, material dan finishing, CMF Designer mencari insight dari berbagai sumber termasuk bekerjasama dengan lembaga trend forecaster untuk melihat berbagai aspek  seperti politik, ekonomi, sosial, teknologi, regulasi pemerintah dan lingkungan, yang memiliki potensi dalam memberikan pengaruh kepada target konsumen yang dituju. Dan CMF Designer akan sangat selektif dan akurat dalam mempertimbangkan warna mana yang akan digunakan dan mana yang tidak. Bahkan dalam menentukan sebuah warna yang kita anggap cukup standard, seperti warna hitam contohnya, seorang CMF Designer harus memiliki kepekaan dalam mengeksplorasi hingga puluhan sampel warna hitam dengan tone dan finishing yang berbeda, sebelum akhirnya memutuskan satu warna hitam yang dianggap paling relevan dengan kebutuhan target konsumen. Setelah itu sampel warna tersebut akan dikirim ke lab warna untuk diukur koordinat warnanya untuk memastikan konsistensi warna tersebut saat produksi massal.

Demikian juga dengan material. CMF Designer memiliki kesempatan untuk bereksperimen dengan berbagai material yang unik dan inovatif, serta melihat teknologi yang digunakan dalam metode pembentukan (forming method) material tersebut. Hal ini sangat berharga karena dengan melihat secara langsung metode pembentukan tersebut akan mempermudah desainer untuk membuat desain yang inovatif.

Terakhir yang tidak kalah menarik adalah elemen finishing. Finishing disini mencakup berbagai aspek seperti gloss level permukaan material (high gloss, satin atau matte), tekstur permukaan, serta motif dekorasi yang diperlukan. CMF Designer diharuskan untuk memiliki kepekaan tinggi dalam melihat satu tekstur dengan lainnya yang perbedaannya hanya dalam hitungan mikrometer.

 

Keseriusan dan perhatian terhadap detail seperti inilah yang menambah ketertarikan saya di bidang CMF design.

Bangwin: Thank you Jeff…..yang terakhir nih ya Jeff, kira-kira bisa kasih saran dan pesan bagi teman-teman mahasiswa jurusan Industrial Design atau siapapun yang tertarik untuk bekerja dibidang yang berkaitan dengan Industrial Design gak? Supaya bisa sukses dalam mencapai apa yang mereka inginkan di bidang ini.

Jeff Andrew: Be extremely curious. Be persistent. Take Risk. Stay humble. 

Ini adalah “harga” yang perlu dibayar khususnya bagi teman-teman yang ingin serius berkarir di bidang Industrial Design. Jangan berhenti belajar dan jangan pelit berinvestasi pada diri sendiri untuk memperdalam pengetahuan dan skill yang diperlukan untuk bisa berkiprah sebagai Industrial Designer. Don’t expect someone else to pay you if you’re not willing to invest in yourself. 

Sebagai penutup saya ingin menshare sebuah quote yang saya dapatkan dari salah satu podcast sebagai berikut: 

“Passion isn’t just something that you love doing, but it’s also something that you’re willing to sacrifice for.”(Dale Partridge, founder of Startupcamp.com).

*Semua foto dan gambar digunakan atas seijin Jeff Andrew Sihombing


Tentang Penulis:

Abang Edwin SA atau lebih dikenal dengan panggilan BangWin adalah seorang konsultan digital business dan creative thinking (Bangwinissimo Consulting). Ia juga dikenal sebagai pionir dalam bidang online community management semenjak tahun 1998. Ikuti jejak langkahnya dengan memfollow @bangwinissimo dan Facebook ProfilenyaBlognya bisa dibaca di bangwin.net 


 

2 Comments

  1. Tunjung Kertopati

    Great article @AbangEdwin!
    Very inspiring @JeffAndrew 🙂 Keep on rocking!

    • bangwin

      Thank you Tunjung…..Kalau tidak salah, Jeff ini sempat jadi mahasiswa nya Tunjung kan di Trisakti ya?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Theme by Anders Norén

%d bloggers like this: